Selasa, 13 Januari 2009

PKS Tanamkan Kekerasan!




Tanpa Sadar, PKS Tanamkan Kekerasan!



INILAH.COM, Jakarta – Manuver PKS menyikapi kebrutalan militer Israel benar-benar merpotkan banyak pihak. Menyusul vonis Bawaslu bahwa PKS melanggar aturan kampanye dalam aksi solidaritas Palestina, Komnas Perlindungan Anak pun kini menduga adanya unsur eksploitasi terhadap anak dalam aksi damai itu.


Sikap ini jelas menyudutkan PKS, karena partai ini jelas-jelas dituding melanggar UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Menurut Sekjen Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, aksi demo PKS awal Januari lalu, sengaja atau tidak, telah menanamkan semangat kekerasan kepada anak kecil.


“Dengan mengajak anak-anak berdemo, secara tanpa sadar telah mengajarkan kekerasan dan kebencian kepada anak,” tandas Arist kepada INILAH.COM, Selasa (13/1).


Bagaimana Komnas Perlindungan Anak bisa sampai pada kesimpulan itu? Bagaimana pula potensi PKS menyebar semangat kekerasan dan kebencian melalui demo atas agresi militer Israel ke Palestina? Berikut ini wawancara lengkapnya:


Bagaimana perkembangan rencana laporan Komnas Perlindungan Anak (PA) ke Bawaslu atas demosntrasi PKS awal Januari lalu?

Belum jauh. Kita masih evaluasi, nanti hari Jumat mendatang baru menyatakan sikap.


Apa landasan pemikiran Komnas PA melaporkan PKS ke Bawaslu?

Sifatnya bukan laporan, tetapi memberi masukan supaya UU Perlindungan Anak No 23/2002 pasal 42 yang menyebutkan bahwa tiap orang atau korporasi dilarang melibatkan anak dalam kegiatan politik. Nah, langkah kita ini supaya KPU dan Bawalsu, agar tidak menggunakan UU Pemilu, tapi juga menggunakan UU PA juga.


Salah satu contoh yang ada, pada aksi yang menggunakan atribut partai dengan slogan kemanusiaan, itu tidak bisa dipisahkan dari kampanye politik. Seperti membuat ikat kepala pada anak-anak, membawa bendera, itu kan kegiatan politik, meski itu dibungkus untuk aksi kemanusian. Nah, kita bukan melaporkan, tapi memberi masukan bahwa telah terjadi pelanggaran UU PA. Supaya KPU dan Bawaslu tidak hanya berpijak pada UU Pemilu saja.


Sebenarnya apa dampak negatif yang akan menimpa pada anak-anak jika terlibat dalam kampanye partai politik?

Dampak negatif dapat mengancam keselamatan anak, misalnya naik sepeda motor. Itu yang haikiki. Dalam konteks psikologis, anak itu tidak mengerti apa-apa, malah mereka hanya menganggap itu adalah hiburan. Tetapi kalau dibiarkan, akan mengancam jiwa mereka.


Bukankah anak-anak tadi bersama orang tuanya masing-masing, seperti dalam demo PKS awal Januari lalu?

Itu kan artinya rentan, sekalipun dilindungi. Karena di dalam rumah sendiri pun anak bsia celaka, apalagi secara arak-arakan.


Bagaimana dampak psikologis yang akan menimpa anak peserta demo atau kampanye partai politik?

Secara psikologis, akan menganggu psikologisnya. Karena pendidikan politik tidak seperti itu, tapi melalui proses dialogis, dimulai dari rumah bukan dari jalanan.


Dalam konteks demo PKS bagaimana relevansinya?

Demo PKS kemarin kenapa membiarkan anak-anak membakar atribut, melempari, dan meneriaki kekerasan ? Itu kan membangun perilaku kekerasan. Kenapa tidak anak-anak dididik untuk mengirim surat pada anak-anak korban Palestina, mengirim surat ke UNICEF untuk segera membantu anak-anak Palestina? Bukan menanamkan perilaku kebencian.


Artinya, Komnas PA menilai aksi PKS kemarin menanamkan semangat kebencian dan kekerasan kepada anak-anak?

Dampaknya seperti itu. Saya tidak mengatakan menanamkan, karena kalau menanamkan disadari. Tapi tanpa disadari, demo kemarin berdampak menanamkan kebencian dan kekerasan pada anak. [P1]

1 komentar:

olly mengatakan...

Demo anti Israel dengan mengajak anak-anak yang dilakukan PKS adalah satu hal yang memang tidak disadari oleh PKS maupun underbow-nya selama ini. Sepertinya cara menanamkan persoalan ideologis kepada anak-anak oleh PKS (termasuk underbownya) adalah cara yang efektif. Dan memang efektif kalo dilakukan dengan demo/turun jalan terus-terusan. Ini frame gerakan PKS. Karena dengan turun ke jalan terlebih mengajak anak-anak akan mengundang simpati masyarakat yang lalu lalang di jalan dan penonton TV di rumah. Satu lagi yang tidak disadari atau memang ini sengaja tidak dihiraukan PKS adalah "fatsun politik". Tata krama politik seolah-olah dikesampingkan demi alasan kemanusiaan. Padahal PKS adalah organisasi partai, harusnya memahami situasi politik yang berkembang lebih-lebih mendekati pemilu. Seadainya aktifis yang terlibat di PKS dalam aksi anti Israel menggunakan atribut lain, mungkin tidak persoalan. Nampaknya PKS harus belajar menahan diri demo-demo dengan atribut partainya. Luhatlah partai-partai yang lain, sepertinya ingin menghindari tindakan-tindakan yang menjadi blunder atau kesan negatif. Politik memang perlu moral, kejujuran dan cara simpatik, tapi juga perlu kedewasaan dan sadar posisi. Lebih-lebih aspirasi PKS disalurkan melalui legislatif untuk mendesak keseriusan Pemerintah RI dalam mendukung Gerakan Kemanusiaan Global dengan tujuanakhir mengajukan Israel ke Pengadilan HAM.